Si Billy dan Si Dilly
Matahari tampak mulai tenggelam. Senja di sore itu tampak indah. Warna oranye bercampur merah muda menghiasi langit sore itu. Namun, di keindahan senja itu, Sang ibu kelinci terlihat cemas karena kedua anaknya Si Dilly danSi Billy belum juga pulang. Kedua anak kelinci itu memang nakal dan tidak ingat waktu bila bermain.
“Aduh, kemana perginya kedua anakku itu? Dari siang belum juga pulang.”, ujar Bu Kelinci.
“Sabar saja, Bu. Mungkin mereka dalam perjalanan pulang.”, kata Pak Kelinci menenangkan.
“Bapak akan mencari mereka.”, sambung Pak Kelinci
Sementara Bu Kelinci cemas dan Pak Kelinci mencari, di tengah hutan, kedua anak kelinci itu masih bermain. Mereka bermain lempar tangkap dahan kayu. Tak lama kemudian, mereka kelelahan.
“Billy, lama lama aku lelah bermain seperti ini. Pulang ke rumah, yuk?”, kata Si Dilly.
“Nanti sebentar, kita puas-puaskan dulu bermainnya. Di rumah kan kita tidak bisa bermain karena rumah kita sempit.”, ujar Si Billy.
“Yasudah, tapi jangan lama lama karena hari juga mulai gelap.”, kata Si Dilly menurut.
Malam telah tiba, langit tertutup awan tebal. Tak ada satupun bintang tampak berkelip. Angin bertiup kencang semakin membuat suasana malam menjadi mencekam.
“Aduh, kemana para anakku pergi? Sudah aku kelilingi hutan ini namun tak kunjung ketemu.”, gumam Pak Kelinci.
Pak Kelinci lalu bertemu oleh Sang Kancil.
“Wahai, Sang Kancil apakah kau melihat kedua anakku Si Billy dan Si Dilly?”, tanya Pak Kelinci.
“Dari tadi siang, aku belum melihatnya. Apakah mereka belum pulang? Karena sebentar lagi akan turun hujan.”, ujar Kancil.
“Dari tadi siang mereka belum juga pulang. Yasudah, terimakasih aku akan kembali mencari.”, jawab Pak Kelinci.
Kedua anak kelinci itu kelelahan dan tertidur di sebuah goa. Mereka tiba-tiba terbangun karena kedinginan.
“Dilly, apakah diluar hujan? Aku takut disini.”, kata Billy.
“Masih, Billy. Sebenarnya hanya gerimis kecil namun deras. Aku juga takut berada di sini.”, kata Dilly.
Tiba-tiba ada mata merah bersinar di belakang mereka. Ternyata, mata merah tersebut adalah Bu Beruang. Si Billy dan Si Dilly nampak ketakutan. Mereka ketakutan dimakan beruang tersebut.
“Tenang, Nak. Ibu Beruang tidak akan memakan kalian. Silakan masuk, diluar dingin.”, kata Bu Beruang.
“Terimakasih, Bu.”, jawab mereka hampir kompak.
“Bagaimana kalian sampai disini? Disini kan jauh dari tempat tinggal kalian.”, tanya Bu Beruang.
“Kami tadi bermain kejar-kejaran lalu bermain lempar lemparan sampai kesini. Kami kelelahan kemudian tertidur di goa ini.”, jawab Dilly menjelaskan.
“Yasudah, nanti akan Ibu antar pulang menuju rumahmu. Ibumu pasti cemas.”, kata Bu Beruang.
Sementara menunggu hujan reda, Pak Kelinci putus asa kemudian pulang ke rumahnya. Di rumah, Ibu Kelinci tidur terpulas. Pak Kelinci tidak mau membangunkan Bu Kelinci karena Bu Kelinci nampak kelelahan. Bu Beruang lalu menggendong para kelinci kecil nakal itu menuju ke rumahnya. Kedua anak kelinci itu langsung masuk ke rumahnya dan menuju ke kamar ibunya sambil memeluk ibunya itu. Ibunya terbangun lalu segera membalas pelukan anaknya itu.
“Terimakasih, Bu Beruang telah mengantarkan kedua anakku pulang. Mereka memang nakal, maaf jika merepotkan.”, kata Bu Kelinci.
“Tidak apa-apa, Bu, Yasudah saya pamit pulang dulu.”, kata Bu Beruang pamit.
Akhirnya, Bu Kelinci menasihati anaknya agar langsung pulang jika bermain. Si Billy dan Si Dilly lalu menurut dan kemudian menjadi anak kelinci yang patuh kepada orang tuanya. Kini, Bu Kelinci bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah menjadikan anaknya menjadi anak yang baik.
Bagus kreatif dan mantoel
BalasHapusKreatip
BalasHapusGood 👌
BalasHapusBagus keren ceritanya
BalasHapusSempurnaaaaa
BalasHapusUlaaalaa~~ 💕💕💕💕💕
BalasHapus👍👌
BalasHapusTokohnya baguss
BalasHapusMantap atu neng
BalasHapusBaguss
BalasHapusMantap. By niar.c
BalasHapusBagus
BalasHapusmantoooeellll!
BalasHapusbagus bagus
BalasHapusbagus(Nayla)
BalasHapusmenarik(pelangi)
BalasHapusBagus (good)
BalasHapusMenarik
BalasHapusMenarik
BalasHapusBagus
BalasHapus👍 (kalila)
BalasHapusMantap (alifia)
BalasHapusMantap
BalasHapusMantoull
BalasHapus